Innalillahi wa inna ilaihi raji'un, Pondok Pesantren Nurud Dhalam Kehilangan sang cahaya

  
Duka mendalam sedang dirasakan oleh keluarga besar pondok pesantren Nurud Dhalam karena pengasuh sekaligus pendiri salah satu pondok pesantren di kecamatan Ganding ini, berpulang ke rahmatullah pada pagi hari sekitar jam 06.30 WIB.
    Wafatnya beliau merupakan pukulan berat bagi segenap keluarga, santri dan para alumni. sosoknya tidak hanya sekedar kiai namun suri tauladan yang menjadi uswatun hasanah bagi para santrinya. oleh sebab itu, tak berselang lama setelah wafatnya. para alumni dari semua penjuru mulai memadati area pondok pesantren untuk soan dan membacakan surat yasin, tahlil dan doa bersama serta mengikuti rangkaian tajhizul janazah masyayikh yang sangat dicintai ini.
    Menurut keterangan dari Mohammad Junaidi, seorang santri yang saat itu mendampingi "Kiai Seppo" (sebutan dari para santri untuk K.H. Ilyas), kondisi beliau mulai menunjukkan penurunan secara derastis pada sekitar jam 12:00 WIB pada malam hari. sehingga melihat kondisi tersebut, sebagian dari santri membacakan burdah dan yasin bersama di mushollah sebagai bentuk doa kepada sang muassis. kondisi tersebut tetap sama hingga ba'da subuh. beliau sempat di periksa kesehatan seorang dokter namun dokter tersebut menyarankan untuk di rawat ke RSUD, tapi tidak berselang lama dari rencana tersebut, beliau menghembuskan nafas terakhir pada dini hari.
    Hari jum'at dan turunnya hujan merupakan dalalah husnul khatimahnya beliau, tentunya hal ini merupakan secercah kebahagiaan bagi para muhibbinnya yang juga mendambakan kematian seperti halnya kematian dari sosok yang sangat dicintai ini namun rasa duka dan kehilangan tidak dapat dipungkiri tetap menyayat hati santri, alumni dan keluarga beliau.
"kesedihan tidak dapat di tepis dari berpulangnya beliau. Kami para santri merasa sangat kehilangan, namun bukan hanya kami yang sedih, tapi juga alam yang ditandai dengan hujan yang mengiringi kepergian beliau. kami yakin beliau telah berpulang dengan khusnul khatimah. semoga kami bisa menyertainya kelak disana" tuturnya.
    Berita wafatnya K.H Ilyas nyatanya juga sampai kepada para tokoh ulama dan kiai dari beberapa pondok pesantren. Di hari itu, hadir beberapa tokoh seperti K. Abbas Muhammad Rofi'i salah satu kiai dari pondok pesantren Banyuanyar Pamekasan, dimana pondok tersebut adalah tempat K.H Ilyas menimba ilmu. beliau sempat mensholati K.H Ilyas sebelum di kebumikan.
    Tidak berhenti sampai disitu, K. Abbas jugalah yang membacakan talkin saat penguburan dari jenazah K.H. Ilyas As'ari. hal ini merupakan salah satu wasiat dari beliau sebelum wafat untuk bisa di shalatkan oleh salah satu masyaikh dari pondok tempat beliau mencari ilmu di masa mudanya. 
"Sebelum wafatnya, beliau pernah berwasiat untuk di shalatkan oleh salah satu masyayikh dari ponpes Banyuanyar Pamekasan" ucap salah satu dzurriyah dari K.H Ilyas.
    Dalam postingan di media sosialnya, K. Abbas memberikan pernyataan bela sungkawanya. "Innalillahi wainna ilaihi rajiun, telah wafat di hari ini K. Ilyas Ganding, Beliau adalah sosok yang luar biasa, sholeh dan alim meninggal di usia 90 tahun. Beliau ketika masih di banyuanyar seangkatan dengan K. Dawi, K. Thofir, dan K. Ishak dan beberapa teman seangkatan beliau yang telah mendahuluinya. semoga beliau dan guru-guru kita terus diangkat deratnya oleh Allah SWT dan semoga kita senantiasa mendapat barokah dari beliau-beliau". tutur beliau dalam postingannya.
    Selain dari K. Abbas, hadir juga K. Shalahuddin A Warits atau lebih dikenal sebutan "Ra Mamak", salah satu masyayikh dari pondok pesantren Annuqayah Guluk-guluk, Sumenep. dan beberapa tokoh ulama lainnya. dengan hadirnya mereka menjadi indikasi betapa berkesannya dan dicintainya sosok pendiri pondok pesantren Nurud Dhalam ini, sehingga disela-sela kesibukan dari tokoh ulama tersebut, masih menyempatkan diri untuk berta'ziyah di rumah duka.

Penulis: Ahmad Muzayyin
Editor: Ahmad Nuriz Zaman
 

2 Komentar

Posting Komentar
Lebih baru Lebih lama